Memilih Karpet Murah Yang Berkualitas

Ambal atau biasa dikenal dengan sebutan karpet bisa ditemui hampir di setiap rumah. Sebagai salah satu elemen soft furnishing dalam interior ruang, karpet tidak hanya membuat ruang tampak cantik, namun juga mampu menghangatkan suasana. Lalu Bagaimana cara kita untuk Memilih Karpet Murah Yang Berkualitas sehingga tidak merasa kecewa setelah melakukan pembelian karpet murah ini.

Karpet yang memiliki kualitas biasanya terbuat dari bahan yang lembut, membuat karpet sangat nyaman ditiduri. Bahkan tidak sedikit rumah tangga yang melengkapinya dengan bantal-bantal cantik sebagai tempat untuk bersantai sambil menonton televisi bersama keluarga.

Di beberapa negara di belahan timur tengah, karpet malah menjadi suatu elemen interior yang utama. Di sana, karpet menjadi “patokan” utama dalam hal tema dan warna sebelum tirai dan furnitur lain dibeli.

harga karpet murah di jakarta

Pusat Grosir Karpet Murah Jakarta

Walaupun beragam karpet dari berbagai negara sudah banyak dijual di pasaran, hingga kini karpet buatan Turki tetap yang paling banyak dicari orang. Tak semua karpet buatan Turki memiliki kualitas yang sama. Adalah karpet sutera Hereke berkualitas tinggi yang terkenal sangat halus dan lembut.

Sulitnya mendapatkan sutera sebagai bahan pembuatnya, membuat karpet sutera Hereke dijuluki sebagai Raja Karpet. Sutera sebagai bahan pembuat karpet Hereke secara khusus didatangkan dari daerah Bursa di Turki. Pemerintah Turki bahkan tidak mengizinkan sutera Bursa digunakan untuk produk lain selain karpet Hereke dan uniknya setiap karpet umumnya dinamai menurut desa di mana karpet itu dibuat.

Selain motifnya yang cantik, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan membeli karpet, antara lain:

1. Perhatikan Simpul karpet
Semakin banyak simpul per inci persegi, maka semakin halus pekerjaannya. Hal ini tentu saja membutuhkan lebih banyak waktu dan pengalaman untuk membuat simpul yang kecil.

2. Perhatikan Bahan karpet
Bahan pembuat karpet bisa terbuat dari wol, sutera, kartun atau kombinasi. Karpet yang halus dibuat dari bahan natural yang berkualitas tinggi sedangkan yang kurang halus terbuat dari bahan sintetis. salah satu rekomendadi untuk mencari karpet berkualitas di karpetmurah.net sebagai tempat pilihan berbagai macam jenis kualitas bahan karpet terbaik

3. Perhatikan Warna
Pewarna tumbuh-tumbuhan dapat digunakan untuk karpet. Pewarna alamiah berkualitas lebih tinggi dan dapat bertahan selama 200 sampai 300 tahun.

Mengenal karpet lebih detil akan memudahkan Anda dalam menentukan kualitas karpet. Dengan begitu, ruang duduk Anda akan terasa lebih nyaman, cantik dan “berkelas”.

( diambil dari : http://masihakudisini.blogspot.com/2016/09/grosir-karpet-masjid-murah-di-jakarta.html )

Sejarah Keindahan Dari Karpet

Sejarah karpet bermula di Asia Tengah antara tiga sampai dua millennium sebelum masehi (SM). Karpet tertua ditemukan dalam kuburan di lembah Pazyrik yang diperkirakan berasal dari lima sampai empat abad SM. Sementara tumpukan karpet bersimpul tepi tertua ditemukan di semenanjung Anatolia Turki yang diperkirakan berasal dari masa dinasti Seljuk pada pertengahan pertama abad 13 (Wikipedia).

Delapan belas karpet lebar ini diperkirakan berasal dari Konya bermotif pengulangan bentuk-bentuk geometri dengan kaligrafi kufic dan semi-kufic di tepiannya.
Akhirnya, kehalusan serta keindahan karpet dari kota-kota pusat produksi seperti Kashan, Sahraz, Baluchistan, Kashmir dan Konya efektif menggambarkan keagungan imperium-imperium besar Islam masa lalu. Peradaban bangsa-bangsa kuno tersebut eksis dan redup atau hilang sama sekali dalam periode sejarah yang panjang. Kerajaan-kerajaan kecil dan besar itu saling bersaing ataupun takluk dibawah imperium super power Abbasiah, Andalusia, Seljuk, Otoman, Safawid, Mughal, atau Fatimiyah.( Baca : Sejarah Negri Pembuatan Karpet )

Ketika kerajaan-kerajaan kuno itu masih eksis, mereka berinteraksi dan saling berdagang dengan kerajaan-kerajaan lain nun jauh di horizon membentuk urat-urat jalur sutera menembus gurun dan lautan, menjangkau China dan India kuno serta Kepulauan Nusantara. “Globalisasi” periode awal tersebut membentuk jaringannya yang rumit, serumit cara pembuatan karpet yang indah.

Kita harus pahami atmosfer kekuasaan feodal pada masa ketika karpet-karpet itu dibuat.
Dalam perspektif Eropa kuno ketika kerajaan-kerajaan seperti Aragon dan Castila saling bersaing, saling berperang tak jarang digunakan untuk meraih legitimasi kekuasaan, menciptakan negara pelindung dan negara vassal. Hegemoni raja adalah atas masing-masing kepala para abdi, rakyat jelata.

Dari sejarah kita ketahui Prancis kuno mengembangkan bahasanya sendiri yang berbeda dari kerajaan lainnya untuk membentuk kekuasaan atas rakyatnya.
Raja-raja Spanyol dan Portugis menikahkan atau menikahi puteri-puteri kerajaan Eropa lainnya untuk memperluas wilayah tanpa peperangan, ketika ide penaklukan seperti secara legendaris dicontohkan oleh Alexander the Great atau Imperium Romawi di masa sebelumnya.

Kesatuan sebuah bangsa adalah juga tentang identitas budaya, bahasa pemersatu, serta imagination feeling narrative. Tak heran cooking culture, budaya karpet, perpustakaan dan pemandian umum, batik atau keris di kepulauan Nusantara atau kain sutera di China, Bahasa Sansekerta dan kesusasteraan Mahabarrata di India menjadi manifestasi kesatuan kekuasaan imperium pada masa tertentu, meski tak jarang hanya berakhir pada level kesatuan budaya.

Tak mengherankan, dari sejarah pula kita ketahui di jaman inkuisisi di Spanyol kuno untuk mencari Muslim adalah dengan melihat adanya kamar mandi di dalam rumahnya. Atau juga bagaimana brutalnya Jenghis Khan menghancurkan Baghdad dengan membakar dan membuang buku-buku perpustakaan hingga menyebabkan sungai Eufrat menjadi hitam oleh tinta.

Akhirnya peran unik Turki sebagai bekas imperium Romawi Timur yang selama berabad-abad mengancam adalah turut memperkenalkan karpet di dunia Barat.
Karpet Turki muncul dalam beberapa lukisan Barat, sebagai simbul status sosial yang tinggi bagi pemiliknya. Sampai abad 17 dunia Barat mengenal karpet hanya sebagai tutup meja atau hiasan dinding ketika mereka mendatangkan sejumlah permadani Persia (Wikipedia).

Baru pada abad 18 karpet menjadi bagian dari interior Barat sebagai penutup lantai. Kini karpet modern berbahan polyester atau nilon adalah perlengkapan standar di negara empat Musim seperti Australia, selain tentu saja kita mengenal “karpet merah” di dunia selebritis Hollywood.
Kita berada pada zaman yang terus berubah. Dengan didorong oleh kemajuan teknologi informasi dan perdagangan bebas, globalisasi yang melanda meluruhkan konsep tentang sovereignty, negara bangsa, dan menjungkirkan teori-teori politik lama. Kekuasaan politik dalam gelombang demokratisasi dan pasar bebas saat ini cenderung pada bentuk konsensus. Legitimasi tidak lagi terhadap orang-per orang dengan kekuatan senjata atau hegemoni agama, tetapi the rulling class mencari dukungan rakyat melalui bilik suara.

Meski drone tak berawak atau rudal jelajah antar benua masih digunakan, tetapi efektifitasnya melemah. Hegemoni budaya dan kantor berita bisa lebih kuat dibandingkan aliansi-aliansi lama. Dan internet menembus semua monopoli yang pernah terjadi atas berita. Kekuatan ekonomi sebuah bangsa adalah soft power yang semakin berpengaruh atas hubungan antar negara.

Kita harus bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan ini. Ketakutan menghadapi globalisasi dari respon ultra nasionalistik dan bahkan melibatkan kemarahan dan kekerasan sebagai ekspresi ketakutan kehilangan kuasa, haruslah dihindari. Bekerja keras dan cerdas dengan mengambil keuntungan dari proses globalisasi adalah jalan terbaik yang harus ditempuh.

Kembali lagi ke karpet bermotif senjata modern produk Afghanistan mengisahkan secara jujur kenyataan yang terjadi kini. Amerika terus-terusan “menyembunyikan permasalahan di balik karpet” dengan tetap melanjutkan perang tiga trilyun dollarnya (Stiglitz, 2008) di Iraq dan Afghanistan yang membenamkannya dalam kubangan hutang dengan China, Jepang dan Arab Saudi.

Negeri-negeri Asia seperti China dan India mulai mengancam dengan kekuatan soft power ekonominya yang mampu menggandakan cadangan devisanya hanya dalam hitungan tahun, bukan dekade atau abad.
Sampai kapankah Dollar, Hollywood, McDonald dan CocaCola akan terus menghegemoni dunia?
Kekalahan perang Sembilan tahun di Afghanistan (sebagaimana tanda-tandanya mulai terlihat), tempat karpet bergambar alat-alat perang dibuat oleh tangan-tangan terampil, anak-anak miskin dari pegunungan Hindu Kush yang mungkin melewati celah Khiber untuk mengirimnya ke Australia sepertinya menjadi clue bagi sejarah masa depan dunia.
Semoga bermanfaat